Tribratanews.sulsel.polri.go.id – Tidak jarang kita temui masyarakat yang hidupnya sangat memprihatinkan karena hidup serba kekurangan, seperti yang dialami seorang laki-laki lansia yang hidup sebatang kara di Dusun Malaginna Desa Lassang Barat, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
Pria lansia tersebut biasa dipanggil Daeng Dudding yang sudah berusia 70 tahun, tidak punya anak dan istri, hidupnya bergantung kepada orang lain, makan sehari-harinya atas bantuan para tetangganya bahkan rumah tempat tinggalnya pun sudah tidak layak huni dan sering sakit-sakitan.
Bersyukurlah, Bripka Abd. Malik, seorang personil Polsek Polongbangkeng Utara Polres Takalar yang tugas sehari-harinya sebagai Bhabinkamtibmas Desa Lassang Barat mempunyai pribadi yang peduli sesama dan rasa kemanusiaan yang tinggi sering mendatangi beliau untuk melihat keadaannya.
“Saya memang sering menyambangi beliau dirumahnya, memberikan semangat untuk selalu sabar dan ikhlas atas segalanya, beliau memang sangat perlu perhatian khusus, apalagi beliau sudah lansia dan hidup seorang diri, kehidupannya masuk kategori miskin, rumah panggung miliknyapun sudah tidak layak huni,” ungkap Bhabinkamtibmas Bripka Abd. Malik, Senin (02/03/2020).
Dihubungi terpisah, Kapolsek Polut Polres Takalar, Akp. H. Andi Herman Syah S.H mengungkapkan, kegiatan ini salah satu kegiatan positif yang rutin dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Polsek Polut untuk selalu hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai bentuk rasa peduli sesama, memberikan rasa aman, nyaman dan juga hubungan dengan masyarakat lebih dekat.
Seperti halnya yang disampaikan Kepala Dusun Malaginna Desa Lassang Barat Mustasim Dg tuju, Pak Bhabikamtibmas Bripka Abd. Malik itu memang sering saya lihat mengunjungi bapak Dudding, bahkan pak Malik pernah menyampaikan ke saya dan meminta restu tentang rencananya untuk membedah rumahnya agar bapak Dudding bisa tinggal di rumah yang lebih layak dari sebelumnya, bahkan setelah informasi ini saya sebarkan, masyarakat Dusun Malaginna siap bergotong royong untuk kegiatan bedah rumah tersebut.
Perhatian Bhabinkamtibmas Polsek Polongbangkeng Utara kepada warga kurang mampu merupakan bukti kecintaannya terhadap warga miskin, sedang kecintaan seseorang kepada saudaranya yang miskin memiliki banyak keutamaan, disalin dari Rumaysho.com, berikut beberapa keutamaannya :
Pertama, Mencintai orang miskin termasuk kebaikan
Mencintai orang miskin termasuk kebaikan. Dalam do’a yang diajarkan di atas, mencintai orang miskin disebutkan secara tersendiri dan ini menunjukkan pentingnya amalan ini, di samping menunjukkan kemuliaannya.
Kedua, Mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka akan memudahkan hisab seorang muslim pada hari kiamat
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim no. 2699).
Ketiga, Dekat dengan orang miskin berarti semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat
Dalam hadits Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku bersama dengan orang-orang miskin pada hari kiamat”. ‘Aisyah berkata, “Mengapa –wahai Rasulullah- engkau meminta demikian?” “Orang-orang miskin itu masuk ke dalam surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya. Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai ‘Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Tirmidzi no. 2352)
Keempat, Mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah
Para ulama menjelaskan bahwa mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah. Karena orang miskin tidaklah memiliki materi dibanding orang kaya. Namun seseorang harus mencintai si miskin itu karena Allah, artinya semakin si miskin itu beriman, ia pun semakin menaruh cinta padanya. Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, memberi karena-Nya, dan tidak memberi juga karena-Nya, maka ia telah sempurna imannya” (HR. Abu Daud no. 4681, Tirmidzi no. 2521, dan Ahmad 3: 438).
Kelima, Mencintai orang miskin termasuk dalam wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat pada Abu Dzar Al Ghifari di mana Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan laa hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau menasehatiku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia” (HR. Ahmad 5: 159).































